Takdir….. part 1
Kisah ini dimulai ketika tape radio tua bapak terdengar di telingaku..
“jangan kau… jangan pernah… jangan pergi… jangan pernah pergi dariku…”
Lagu asing yang kudengar ditelingaku ketika mentari akan terbenam di akhir bulan Juli. Aku terpaku mendengar lagu itu. Entahlah, mungkin itu lagu yang selama ini ku cari dan ku nanti, setelah ribuan lagu diciptakan,
”Neng itu lagu siapa?”
” mana ku tahu? Orang aku juga baru dengar!”
Lagu itu kembali teralun, sebelum batere radio bapak habis. Aku mencoba kembali mengingat lirik dan nada dari lagu itu. Pet! Listrik di rumah mati, seperti biasa pemadaman listrik bergilir.
Keesokan harinya aku berangkat menuju kesekolah dengan menggunakan sepeda warisan turun temurun keluargaku. Yap, aku memang terlahir di keluarga sederhana, hasil perkawinan antara adat Sunda dan jawa. Dan memutuskan untuk tinggal di kota asri, damai nan tentram sebelum kejadian lumpur lapindo merenggut banyak wilayah di kotaku. Aku sulung dari dua bersaudara, adikku biasa kupanggil “neng ” agar adat dari sunda tidak hilang begitu saja.
Di dalam perjalanan tak hentinya ku bersaenandung satu bait lagu “tanpa nama” yang paling aku sukai. Kemudian laju sepedaku melemah seirng berakhirnya bait lagu itu. Psst! Ban sepedaku kembali bocor di tempat biasanya.
“ Sial! Ban bocor lagi, mana bisa sampai lebih awal”
“Oi mas! Bocor lagi ya!”
Mas Darno adalah tukang tambal ban yang biasa menambal ban tuaku ini. Segera saja kutuntun menyebrangi jalan agar tidak terlalu lama.
“bocor lagi ya, kenapa tidak beli sepeda baru saja?”
“Ah, tidak perlu mas itu saja masih bagus, tidak hemat namanya”
Kembali kudengar lagu itu di radio milik mas Darno. Tetapi, belum sempat ku bertanya, sepeda telah selesai di tambal.
“ini bang,”
“iya, makasih dek!”
Dengan sekuat tenaga ku kayuh sepeda menuju sekolah. Tetapi apa daya, namanya nasib telat tidak dapat ditolak lagi. Segera kuparkirkan di samping sekolah dan buru-buru masuk ke dalam.
”Pintar sekali kamu! Baru beberapa minggu jadi siswa kelas tiga sudah berani terlambat!”
Ucapan bu Ning, guru matematika sekolahku seolah menggema di ruang kelas.
” bocor lagi kali bu!”
Tio menimpali sebelum aku sempat menjawab. Tio adalah anak seorang pejabat pemerintah yang sangat kaya raya, dia saja sudah punya dua motor dalam waktu satu tahun ini. Memang sedikit menyebalkan tetapi memang itulah dia. Dia orang yang sangat pesimis, bahkan dia tidak bisa menghargai dirinya sendiri di dalam hidupnya. Singkat cerita, kulalui pelajaran itu, tanpa konsentrasi. Sepertinya ada yang beda di saat aku memasuki ruangan kelas, ternyata ada siswi baru di sekolah. Dia duduk di pojok belakang tanpa ada yang mau menemani.
” Eh, Fia itu anak baru ya?? Kok duduk sendiri”
”Entahlah, aku juga tidak tahu, dia saja tidak mau memperkenalkan diri tadi”
Fairy, teman sebangkuku dia mungkin anak yang paling pendiam di kelas. Tetapi tidak jika aku yang mengajaknya bicara. Dia adalah anak seorang musisi dan tinggal di sebuah desa sedikit jauh dari kota. Tetapi keinginan hidupnya sangat kuat untuk meraih cita-citanya sebagai seorang musisi. Penerus kedua orang tuanya.
to be continue…